Serangan Rudal Oreshnik Rusia Picu Alarm Global di Dewan Keamanan PBB

KabarKabari,- Ketegangan perang Rusia–Ukraina kembali meningkat tajam setelah Moskow menggunakan rudal balistik jarak menengah berkemampuan nuklir, Oreshnik, dalam serangan ke wilayah Ukraina. Langkah ini menuai kecaman keras dari Pemerintah Amerika Serikat dan memicu pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam pertemuan tersebut yang digelar pada Senin (12/1) waktu setempat, Washington menyebut penggunaan rudal Oreshnik sebagai bentuk “eskalasi berbahaya” dalam konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

AS: Eskalasi Berbahaya dan Tak Dapat Dibenarkan

Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Tammy Bruce, secara tegas mengecam tindakan Rusia. Ia menyatakan bahwa meskipun rudal yang digunakan tidak membawa hulu ledak nuklir, fakta bahwa senjata tersebut memiliki kemampuan nuklir tetap menjadi ancaman serius terhadap stabilitas regional dan global.

“Penggunaan rudal jarak menengah oleh Rusia, meskipun tanpa hulu ledak nuklir, merupakan eskalasi berbahaya dan tidak dapat dijelaskan dalam perang ini,” ujar Tammy Bruce dalam forum Dewan Keamanan PBB.

Bruce menegaskan bahwa serangan tersebut terjadi di tengah upaya intensif Amerika Serikat bersama Ukraina, mitra internasional, dan bahkan Rusia, untuk mencari penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan negosiasi. Oleh karena itu, langkah Moskow dinilai bertolak belakang dengan semangat de-eskalasi.

Serangan Menghantam Infrastruktur di Ukraina Barat

Pemerintah Rusia mengklaim bahwa rudal Oreshnik tersebut menghantam sebuah pabrik perbaikan aviasi di wilayah Lviv, Ukraina barat. Wilayah ini selama ini dikenal sebagai salah satu pusat logistik dan infrastruktur penting bagi Ukraina, terutama dalam mendukung sektor pertahanan dan transportasi udara.

Serangan ini menjadi sorotan karena wilayah Ukraina barat relatif jarang menjadi target rudal jarak menengah dibandingkan kawasan timur yang lebih dekat dengan garis depan pertempuran.

Selain itu, Amerika Serikat juga mengecam serangan Rusia yang terus berlanjut terhadap fasilitas energi dan infrastruktur sipil Ukraina, yang dinilai memperburuk kondisi kemanusiaan, terutama menjelang musim dingin.

“Kami mengutuk serangan Rusia yang semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya,” tambah Bruce, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP pada Selasa (13/1/2026).

Rudal Oreshnik dan Pesan Strategis Moskow

Penggunaan rudal Oreshnik memiliki makna strategis yang kuat. Meskipun tidak membawa hulu ledak nuklir, jenis rudal ini dirancang untuk mampu mengangkut senjata nuklir, sehingga penggunaannya sering dianggap sebagai bentuk pesan politik dan militer kepada lawan maupun komunitas internasional.

Para pengamat menilai peluncuran rudal ini bukan sekadar serangan militer biasa, melainkan sinyal bahwa Rusia siap meningkatkan spektrum konflik jika dianggap perlu. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran baru mengenai potensi eskalasi menuju konflik yang lebih luas.

Klaim Rusia dan Bantahan Ukraina

Moskow menyatakan bahwa peluncuran rudal tersebut dilakukan sebagai tanggapan atas dugaan upaya Ukraina untuk menyerang salah satu kediaman Presiden Rusia, Vladimir Putin. Klaim ini langsung dibantah oleh pihak Ukraina.

Pemerintah Ukraina menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan menilai Rusia menggunakan klaim itu sebagai alasan pembenaran untuk meningkatkan serangan berskala besar, termasuk penggunaan senjata strategis.

Perbedaan narasi ini kembali memperlihatkan betapa dalamnya jurang kepercayaan antara kedua negara yang berkonflik, sekaligus menyulitkan proses diplomasi.

Reaksi Internasional dan Kekhawatiran Global

Penggunaan rudal berkemampuan nuklir, meski tanpa hulu ledak, memicu kekhawatiran luas di komunitas internasional. Banyak negara anggota PBB menilai langkah tersebut berpotensi melanggar semangat pengendalian senjata strategis dan meningkatkan risiko salah perhitungan militer.

Dewan Keamanan PBB kini berada di bawah tekanan untuk merespons situasi ini, meski perbedaan pandangan di antara negara-negara besar kerap menghambat tercapainya resolusi yang tegas.

Amerika Serikat dan sekutunya menegaskan kembali dukungan mereka terhadap Ukraina, sembari mendesak Rusia untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil dan kembali ke meja perundingan.

Perang yang Kian Kompleks

Konflik Rusia–Ukraina kini memasuki fase yang semakin kompleks. Penggunaan senjata berkemampuan nuklir, meski tidak digunakan dalam konfigurasi nuklir penuh, memperlihatkan meningkatnya risiko dan skala konflik.

Di sisi lain, upaya diplomatik masih terus dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencegah perang ini berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Bagi Ukraina, serangan terhadap wilayah barat menunjukkan bahwa tidak ada zona yang benar-benar aman. Sementara bagi dunia internasional, peristiwa ini menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas global ketika senjata strategis mulai digunakan sebagai alat tekanan.

Kesimpulan

Peluncuran rudal Oreshnik oleh Rusia menandai babak baru dalam konflik Ukraina. Meski tanpa hulu ledak nuklir, langkah tersebut tetap dipandang sebagai eskalasi berbahaya yang dapat memperburuk situasi keamanan internasional.

Kecaman keras Amerika Serikat dan perhatian Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa dunia tengah mengawasi dengan cermat setiap langkah yang diambil Moskow dan Kyiv. Ke depan, arah konflik ini akan sangat bergantung pada apakah jalur diplomasi mampu menahan laju eskalasi militer yang semakin mengkhawatirkan.

More From Author

Final Gila di Arab Saudi! Barcelona Menang 3-2 atas Real Madrid

Iran Memanas! Protes Anti-Pemerintah Tewaskan Ratusan dan Gegerkan Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *