KabarKabariku,- Suasana persiapan pembagian daging kurban di kawasan Kecamatan Seberang Ulu I (SU I), Palembang, Sumatera Selatan, berubah menjadi duka. Seorang pria bernama Juli Hermanto (40), warga Jalan Panca Usaha, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam saat mencuci usus sapi kurban di aliran anak Sungai Musi, Rabu (27/5) siang.
Peristiwa memilukan itu terjadi di kawasan Jembatan Ratu sekitar pukul 11.30 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban saat itu tengah membersihkan jeroan sapi bersama sejumlah warga usai proses penyembelihan hewan kurban.
Namun nahas, aktivitas yang awalnya berlangsung seperti biasa mendadak berubah panik ketika korban diduga terpeleset dan tenggelam ke aliran sungai. Warga yang berada di lokasi sempat berupaya memberikan pertolongan, tetapi derasnya arus membuat korban sulit diselamatkan.
Korban akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah dilakukan pencarian oleh warga bersama tim penyelamat.
Berawal dari Aktivitas Persiapan Kurban
Menurut keterangan warga sekitar, aktivitas pencucian usus sapi memang kerap dilakukan di aliran sungai karena dianggap lebih praktis. Selain airnya terus mengalir, ukuran jeroan yang besar juga dinilai lebih mudah dibersihkan di sungai dibanding di rumah warga.
Siang itu, suasana di sekitar lokasi sebenarnya cukup ramai. Beberapa warga terlihat sibuk memotong dan membersihkan bagian hewan kurban untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Juli Hermanto diketahui ikut membantu proses pembersihan jeroan sapi. Namun di tengah aktivitas tersebut, korban diduga kehilangan keseimbangan saat berada di tepi sungai.
Sejumlah saksi mata menyebut korban sempat terlihat berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi, korban diduga tidak memiliki kemampuan berenang sehingga kesulitan melawan arus air.
“Kejadiannya cepat sekali. Tadi korban sedang cuci usus bersama warga lain, lalu tiba-tiba tenggelam,” ujar salah seorang warga di sekitar lokasi kejadian.
Kepanikan pun langsung terjadi. Warga yang berada di sekitar sungai berusaha mencari korban menggunakan perahu dan alat seadanya.
Proses Pencarian Korban
Setelah menerima laporan warga, tim penyelamat bersama aparat setempat langsung menuju lokasi untuk melakukan pencarian. Proses evakuasi berlangsung cukup dramatis karena kondisi arus sungai yang cukup keruh dan dalam.
Petugas menyisir area sekitar tempat korban dilaporkan tenggelam. Warga juga ikut membantu pencarian dengan harapan korban segera ditemukan.
Tak lama kemudian, tubuh korban akhirnya berhasil ditemukan tidak jauh dari titik awal tenggelam. Saat dievakuasi ke daratan, kondisi korban sudah tidak bernyawa.
Suasana haru langsung menyelimuti lokasi kejadian. Sejumlah warga dan keluarga korban tampak tidak kuasa menahan kesedihan saat jenazah berhasil diangkat dari sungai.
Setelah proses identifikasi awal selesai dilakukan, jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Panca Usaha untuk disemayamkan.
Diduga Tidak Bisa Berenang
Dari informasi yang berkembang di lapangan, korban diduga tidak memiliki kemampuan berenang. Hal itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan korban kesulitan menyelamatkan diri ketika terjatuh ke sungai.
Kondisi aliran anak Sungai Musi di kawasan tersebut juga dikenal cukup dalam pada beberapa titik. Selain itu, arus air yang terus bergerak membuat orang yang tercebur berisiko terseret arus.
Warga sekitar mengaku kejadian tenggelam sebenarnya bukan pertama kali terjadi di wilayah itu. Karena itu, masyarakat diimbau lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar sungai, terutama bagi yang tidak memiliki kemampuan berenang.
“Kalau ke sungai memang harus hati-hati, apalagi arusnya kadang tidak kelihatan deras dari atas,” kata warga lainnya.
Sungai Masih Jadi Bagian Aktivitas Warga
Di Palembang, sungai masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak warga yang memanfaatkan aliran sungai untuk mencuci, mandi, hingga membersihkan hewan kurban saat momentum Iduladha.
Selain faktor tradisi, penggunaan sungai juga dinilai lebih efisien untuk membersihkan bagian hewan kurban seperti usus dan jeroan lainnya yang membutuhkan banyak air.
Namun di sisi lain, aktivitas tersebut juga menyimpan risiko keselamatan jika tidak dilakukan dengan hati-hati.
Peristiwa yang menimpa Juli Hermanto menjadi pengingat bahwa aktivitas sederhana di sungai sekalipun tetap memiliki potensi bahaya, terutama saat kondisi arus tidak stabil atau ketika seseorang tidak memiliki kemampuan berenang.
Warga Diminta Lebih Waspada
Pasca kejadian tersebut, warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan aktivitas di sekitar sungai. Penggunaan alat pengaman sederhana hingga pengawasan bersama dinilai penting untuk mencegah insiden serupa kembali terjadi.
Beberapa tokoh masyarakat setempat juga mengingatkan agar proses pencucian hewan kurban dilakukan di lokasi yang lebih aman, terutama bagi warga lanjut usia atau mereka yang tidak terbiasa berada di sungai.
Selain itu, keberadaan sungai yang menjadi pusat aktivitas masyarakat di Palembang memang membutuhkan perhatian serius terkait aspek keselamatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus warga tenggelam akibat terpeleset atau terseret arus masih kerap terjadi, terutama saat aktivitas masyarakat meningkat di bantaran sungai.
Duka Mendalam bagi Keluarga
Kepergian Juli Hermanto meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Korban dikenal sebagai sosok yang aktif membantu kegiatan lingkungan dan kerap terlibat dalam aktivitas sosial masyarakat.
Tangis keluarga pecah saat jenazah tiba di rumah duka. Sejumlah kerabat dan tetangga berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa.
Bagi warga sekitar, peristiwa ini menjadi pukulan tersendiri karena terjadi di tengah suasana kebersamaan menjelang pembagian daging kurban.
Niat korban untuk membantu proses pembersihan hewan kurban justru berakhir tragis. Banyak warga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
Keselamatan Harus Jadi Prioritas
Peristiwa tenggelamnya Juli Hermanto menjadi pengingat penting bahwa keselamatan harus tetap menjadi prioritas dalam setiap aktivitas, termasuk kegiatan yang terlihat sederhana sekalipun.
Aktivitas di sungai memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama di daerah dengan arus yang tidak menentu. Pengawasan terhadap warga yang berada di sekitar aliran sungai juga perlu diperhatikan, khususnya saat kegiatan masyarakat berlangsung ramai.
Di tengah tradisi gotong royong dan kebersamaan saat momentum kurban, kejadian ini menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Palembang. Warga kini hanya bisa berharap agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah tersebut.
