KabarKabariku,- Perjalanan karier seorang pesepakbola tak selalu berjalan lurus. Ada fase gemilang, ada pula masa sulit yang harus dihadapi. Hal itu pula yang tercermin dalam kisah mantan kapten Timnas Indonesia, Evan Dimas Darmono. Sosok yang pernah menjadi jantung permainan skuad Garuda ini sempat mencuri perhatian publik setelah diketahui pernah bermain di turnamen antarkampung atau yang dikenal dengan istilah tarkam, dengan bayaran yang disebut-sebut mencapai angka fantastis.
Nama Evan Dimas bukanlah pemain sembarangan dalam sepak bola Indonesia. Ia dikenal luas sebagai gelandang kreatif dengan visi permainan yang tajam, kontrol bola mumpuni, serta kemampuan distribusi yang akurat. Kariernya mulai mencuat saat memperkuat Timnas Indonesia kelompok umur, terutama ketika tampil impresif di ajang Piala AFF U-19 2013. Dalam turnamen tersebut, Evan menjadi sosok kunci yang membawa Indonesia meraih gelar juara setelah mengalahkan Vietnam di partai final.
Penampilan gemilang itu menjadi titik awal popularitasnya. Ia kemudian dipercaya memperkuat berbagai kelompok usia Timnas Indonesia hingga akhirnya menembus tim senior. Bahkan, ia sempat dipercaya mengenakan ban kapten—sebuah tanggung jawab besar yang menandakan kepercayaan penuh dari pelatih dan rekan setim.
Dalam karier klub, Evan juga sempat mencicipi kompetisi luar negeri dengan bergabung bersama klub Malaysia, Selangor FA. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan profesionalnya. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pemain yang pernah membela sejumlah klub besar di Indonesia, menunjukkan konsistensinya sebagai gelandang papan atas.
Namun, seiring waktu, karier Evan Dimas mengalami pasang surut. Persaingan yang semakin ketat, perubahan pelatih, hingga faktor cedera menjadi tantangan tersendiri. Dalam situasi seperti itu, sejumlah pemain profesional kerap mencari alternatif untuk menjaga kondisi fisik sekaligus tetap mendapatkan pemasukan. Salah satunya adalah dengan bermain di turnamen tarkam.
Fenomena tarkam sendiri bukan hal baru dalam sepak bola Indonesia. Turnamen ini biasanya digelar di tingkat lokal dengan atmosfer yang sangat dekat dengan masyarakat. Meski tidak seformal liga profesional, tarkam kerap menghadirkan pemain-pemain berkualitas, bahkan dari kalangan profesional. Tak jarang, kehadiran pemain ternama menjadi daya tarik utama bagi penonton.
Dalam konteks ini, keterlibatan Evan Dimas di tarkam menjadi sorotan. Bukan hanya karena statusnya sebagai mantan kapten Timnas Indonesia, tetapi juga karena bayaran yang diterimanya disebut mencapai angka tiga digit atau ratusan juta rupiah. Nominal tersebut tentu terbilang tinggi untuk ukuran pertandingan lokal, meskipun dalam praktiknya, angka tersebut bisa mencakup berbagai komponen seperti bonus penampilan, kemenangan, hingga faktor komersial lainnya.
Kehadiran pemain sekelas Evan dalam turnamen tarkam sejatinya mencerminkan dua sisi. Di satu sisi, hal ini menunjukkan betapa besarnya daya tarik dan nilai komersial seorang pemain profesional, bahkan di level grassroots. Di sisi lain, kondisi tersebut juga mengindikasikan bahwa ekosistem sepak bola nasional masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga stabilitas karier pemain di level profesional.
Meski demikian, penting untuk melihat fenomena ini secara proporsional. Banyak pemain profesional yang tetap menjaga profesionalisme mereka meskipun bermain di luar kompetisi resmi. Selain untuk menjaga kebugaran, tarkam juga menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan akar sepak bola, yakni masyarakat.
Bagi Evan Dimas, perjalanan ini bisa menjadi bagian dari dinamika karier yang lumrah terjadi dalam dunia olahraga. Ia tetap dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dalam satu dekade terakhir. Pengalamannya di level internasional, kontribusinya di Timnas, serta dedikasinya terhadap sepak bola nasional tidak bisa dihapus hanya karena satu fase dalam kariernya.
Ke depan, publik tentu berharap Evan Dimas dapat kembali menunjukkan performa terbaiknya, baik di level klub maupun jika kembali mendapatkan kesempatan di Timnas Indonesia. Usia yang masih tergolong produktif membuka peluang bagi dirinya untuk bangkit dan kembali bersaing di level tertinggi.
Kisah Evan Dimas juga menjadi pengingat bahwa karier seorang atlet tidak selalu berada di puncak. Ada proses jatuh bangun yang harus dilalui. Namun, justru dari proses itulah karakter dan ketangguhan seorang pemain diuji.
Pada akhirnya, apakah bermain di tarkam menjadi langkah mundur atau justru strategi bertahan, semua kembali pada sudut pandang masing-masing. Yang jelas, nama Evan Dimas tetap memiliki tempat tersendiri di hati pecinta
