IHSG koreksi

IHSG Terkoreksi 6 Persen, Geopolitik Global Jadi Biang Keroknya

KabarKabariku,- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sepanjang pekan perdagangan 9-13 Maret 2026. Dalam lima hari perdagangan tersebut, IHSG tercatat terkoreksi hingga 5,91 persen, yang menjadi koreksi terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan yang cukup tajam ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebabnya, terutama dalam menghadapi ketidakpastian pasar baik dari sisi domestik maupun global.

Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Seiring dengan penurunan IHSG, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler dengan total mencapai Rp 1,2 triliun. Tren ini mencerminkan ketidakpastian yang semakin mempengaruhi pasar saham Indonesia, meskipun beberapa sektor ekonomi domestik masih menunjukkan pertumbuhan yang stabil.

Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa pelemahan IHSG sebagian besar dipicu oleh peningkatan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda, turut memengaruhi sentimen pasar global, termasuk Indonesia. Gejolak politik yang melibatkan dua negara besar ini menambah ketidakpastian di pasar finansial dunia, sehingga memengaruhi kepercayaan investor di berbagai belahan dunia.

“Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi volatilitas pasar saham. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko, termasuk saham. Itu sebabnya kita melihat aksi jual yang cukup besar di pasar saham Indonesia pekan ini,” ungkap Hari.

Dampak Ketegangan AS-Iran

Sejak awal 2026, hubungan antara AS dan Iran kembali memanas setelah serangkaian pernyataan keras dari kedua belah pihak. Isu yang mencuat di antara keduanya mencakup kebijakan luar negeri, kesepakatan nuklir, serta masalah kehadiran militer AS di Timur Tengah. Meningkatnya ketegangan ini mendorong investor global untuk mencari tempat yang lebih aman bagi portofolio mereka, termasuk dengan beralih ke aset yang dianggap lebih stabil, seperti emas atau obligasi negara.

Bagi Indonesia, yang merupakan pasar negara berkembang, dampak dari ketegangan ini sangat terasa. Selain penurunan tajam pada IHSG, investor asing yang sebelumnya menunjukkan minat besar terhadap pasar Indonesia juga mulai menarik dananya. Aliran modal yang keluar (capital outflows) ini memperburuk likuiditas pasar saham domestik dan menambah tekanan terhadap IHSG.

Menyoroti Aksi Jual Asing

Data perdagangan saham selama pekan tersebut menunjukkan bahwa investor asing melakukan aksi jual bersih yang cukup signifikan. Total penjualan mencapai Rp 1,2 triliun di pasar reguler, sebuah angka yang cukup besar mengingat pasar saham Indonesia masih relatif kecil dibandingkan dengan pasar-pasar utama global lainnya. Aksi jual ini mencerminkan kekhawatiran investor asing terhadap ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang, dan sebagian besar penjualan tersebut terfokus pada saham-saham blue-chip yang sebelumnya menjadi incaran utama para investor.

Saham-saham besar yang terkena dampak cukup signifikan antara lain sektor perbankan, energi, serta saham-saham terkait komoditas yang sangat bergantung pada pasar global. Sektor-sektor ini menjadi sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas dan perubahan kebijakan internasional, seperti yang terjadi akibat ketegangan antara AS dan Iran.

Kondisi ini juga memicu pergeseran investor, yang mulai mencari sektor-sektor yang lebih defensif atau kurang terdampak oleh gejolak eksternal. Beberapa analis bahkan menyarankan agar investor mengalihkan perhatian mereka ke sektor yang lebih stabil dan lebih domestik, seperti sektor konsumsi atau properti, yang memiliki daya tahan lebih kuat terhadap fluktuasi eksternal.

Tekanan Ekonomi Domestik

Selain faktor global, beberapa sentimen domestik juga memberikan tekanan tambahan terhadap pasar saham Indonesia. Meskipun ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih tumbuh, namun ada beberapa tantangan yang tidak bisa diabaikan. Sektor manufaktur yang sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada akhir 2025 kembali mengalami penurunan seiring dengan berkurangnya permintaan ekspor.

Inflasi yang masih terkendali dan kebijakan moneter yang relatif hawkish dari Bank Indonesia juga turut memberikan ketidakpastian bagi pasar. Kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menanggulangi potensi inflasi berlebihan mengurangi daya tarik investor terhadap saham-saham domestik, yang sering kali dianggap lebih berisiko dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti obligasi pemerintah.

Beberapa sektor yang sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan pasar saham, seperti teknologi dan telekomunikasi, juga mulai menunjukkan pelemahan. Hal ini disebabkan oleh penurunan permintaan domestik yang lebih rendah dari proyeksi awal, serta peningkatan biaya operasional yang turut mempengaruhi margin laba perusahaan-perusahaan besar di sektor tersebut.

Prospek IHSG Ke Depan

Meskipun pasar saham Indonesia mengalami tekanan dalam sepekan terakhir, banyak analis yang percaya bahwa pelemahan ini tidak akan berlangsung lama. Hari Rachmansyah dan analis lainnya percaya bahwa potensi rebound akan terjadi, terutama jika ketegangan geopolitik dapat mereda atau jika sentimen global mulai membaik.

Namun, tantangan tetap ada. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi berkembang, sangat bergantung pada pasar ekspor dan aliran investasi asing untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil. Oleh karena itu, respons terhadap situasi internasional, terutama terkait dengan kebijakan ekonomi global dan geopolitik, akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi arah IHSG ke depan.

“Ke depannya, IHSG berpotensi mengalami pergerakan volatilitas yang cukup tinggi, tergantung pada bagaimana dinamika geopolitik berkembang. Investor harus berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih sektor yang dapat bertahan dalam situasi pasar yang tidak menentu ini,” tambah Hari.

Kesimpulan

Pelemahan IHSG sebesar 5,91 persen dalam sepekan perdagangan 9-13 Maret 2026 menjadi indikasi bahwa pasar saham Indonesia tengah tertekan oleh faktor eksternal yang semakin menguat. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran dan dampaknya terhadap pasar global menjadi penyebab utama turunnya sentimen pasar, yang diikuti dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing. Di sisi domestik, tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih turut menambah tekanan terhadap pasar saham Indonesia.

Namun, dengan langkah-langkah yang tepat dari pemerintah dan Bank Indonesia, serta kemungkinan meredanya ketegangan global, prospek IHSG di masa depan masih memiliki potensi untuk pulih. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan perkembangan global dan domestik yang dapat memengaruhi arah pasar saham Indonesia ke depannya.

More From Author

Kerja Sama Ekspor Listrik Bersih

Indonesia dan Singapura Percepat Kerja Sama Ekspor Listrik Bersih

Satu Lagi Pemain Timnas Cedera

Satu Lagi Pemain Timnas Cedera Jelang FIFA Series 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *