Pria Bakar “Bahtera Nabi Palsu”, Dipicu Ramalan Banjir Palsu

KabarKabari,- Sebuah peristiwa mengejutkan publik terjadi setelah seorang pria nekat membakar sebuah bangunan yang diyakininya sebagai “bahtera” milik sosok bernama Ebo Noah, figur yang mengklaim dirinya sebagai nabi dan menyebarkan ramalan akan terjadinya banjir besar. Aksi pembakaran tersebut diduga dipicu oleh kemarahan mendalam sang pria terhadap ajaran yang dinilainya telah menyesatkan keluarganya.

Insiden ini bermula dari keyakinan sebagian orang terhadap klaim Ebo Noah, yang selama beberapa waktu terakhir dikenal luas di media sosial karena mengaku menerima wahyu dan mempersiapkan sebuah bahtera sebagai tempat penyelamatan umat manusia dari bencana besar yang disebut-sebut akan datang. Klaim tersebut memicu beragam reaksi publik, mulai dari rasa penasaran, penolakan, hingga kekhawatiran.

Menurut keterangan sejumlah saksi, keluarga dari pelaku pembakaran sempat terpengaruh oleh ajaran tersebut. Istri dan beberapa anggota keluarganya bahkan dilaporkan mengemas barang-barang pribadi dan berpindah mendekati lokasi bangunan yang diyakini sebagai bahtera. Mereka berharap bisa ikut serta dan selamat jika ramalan banjir besar benar-benar terjadi.

Kondisi tersebut memicu konflik internal dalam keluarga. Sang pria disebut berulang kali berusaha meyakinkan keluarganya bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyesatkan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Ketika keyakinan keluarga semakin kuat, emosi pelaku pun memuncak.

Puncaknya, pria tersebut nekat melakukan aksi pembakaran terhadap bangunan yang diyakini sebagai simbol dari ajaran tersebut. Aksi itu sontak menghebohkan warga sekitar dan memicu perhatian aparat keamanan. Api berhasil dipadamkan sebelum meluas, namun peristiwa tersebut telah menimbulkan keresahan sosial di lingkungan setempat.

Pihak berwenang menyatakan bahwa kasus ini sedang ditangani sesuai prosedur hukum. Aparat menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tetap tidak dibenarkan, meskipun dilakukan atas dasar emosi atau kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga. Di sisi lain, aparat juga menaruh perhatian serius terhadap aktivitas kelompok atau individu yang menyebarkan klaim keagamaan tanpa dasar dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Pengamat sosial menilai peristiwa ini sebagai contoh nyata bagaimana penyebaran informasi tanpa dasar yang jelas dapat berujung pada konflik serius. Ketika keyakinan dibangun di atas klaim sepihak dan disebarluaskan tanpa kontrol, dampaknya tidak hanya merugikan secara psikologis, tetapi juga bisa memicu tindakan ekstrem.

“Kasus seperti ini menunjukkan pentingnya literasi publik dan peran negara dalam memastikan bahwa ajaran atau klaim yang berpotensi menyesatkan tidak berkembang tanpa pengawasan,” ujar seorang pengamat sosial.

Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan pendalaman terhadap motif pelaku serta latar belakang aktivitas kelompok yang dikaitkan dengan klaim kenabian tersebut. Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta melaporkan aktivitas mencurigakan kepada pihak berwenang.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, nalar kritis dan kewaspadaan sosial menjadi benteng utama agar masyarakat tidak terjerumus pada klaim-klaim yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

More From Author

Gagal Dapatkan Semenyo, MU Beralih ke Bintang Arab Saudi?

Aceh Heboh Bendera GAM Berkibar di Tengah Banjir

One thought on “Pria Bakar “Bahtera Nabi Palsu”, Dipicu Ramalan Banjir Palsu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *