
KabarKabari,- Situasi di Iran saat ini tengah memasuki fase krisis paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang bermula dari masalah ekonomi telah berubah menjadi gerakan protes nasional yang menantang rezim teokratis, disertai tindakan keras aparat, pemadaman internet nasional, dan ratusan korban jiwa. Kondisi ini tidak hanya mengguncang stabilitas dalam negeri Iran, tetapi juga menarik perhatian dan kecaman internasional.
Protes Ekonomi yang Menjadi Gerakan Anti-Pemerintah
Demonstrasi besar di Iran bermula pada 28 Desember 2025 di Grand Bazaar Teheran, pusat perdagangan tradisional negara, ketika para pedagang menolak kondisi ekonomi yang memburuk drastis. Anjloknya nilai tukar rial Iran, inflasi yang tinggi, serta kesulitan ekonomi menjadi pemicu utama kemarahan publik.
Namun gerakan itu dengan cepat berkembang menjadi tuntutan yang lebih luas terhadap pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979. Para pengunjuk rasa kini menyuarakan kritik tajam terhadap korupsi, kebijakan ekonomi yang gagal, dan dominasi militer di sektor ekonomi.
Aksi Tersebar di Seluruh Negeri
Protes kini telah meluas ke lebih dari 100 kota dan lebih dari 31 provinsi di seluruh Iran, termasuk kota-kota besar seperti Teheran, Mashhad, dan Isfahan. Besarnya aksi diyakini sebagai yang terbesar sejak protes nasional sebelumnya pada tahun 2022.
Video yang bocor dari dalam negeri menunjukkan ribuan demonstran yang berkumpul setiap malam, menciptakan suasana ketegangan di berbagai pusat kota meskipun aparat telah berupaya membubarkan massa dengan berbagai cara.
Korban Jiwa dan Penindasan Aparat
Jumlah korban dalam gelombang protes ini terus meningkat tajam. Lembaga hak asasi manusia berbasis di AS, HRANA, melaporkan bahwa lebih dari 500 orang tewas, termasuk sekitar 490 pengunjuk rasa dan 48 anggota keamanan, serta lebih dari 10.600 orang ditangkap sejak dua pekan terakhir.
Organisasi lain seperti IHR menyebut angka kematian bahkan bisa lebih dari 648 orang, mencakup warga sipil dari segala umur. Kekerasan ini dilaporkan termasuk tembakan langsung, penggunaan peluru logam, dan bentrokan dengan keamanan di banyak kota.
Dokumen tentang korban juga mencakup kekerasan tragis terhadap individu muda, termasuk remaja yang ditembak selama protes, yang mencerminkan betapa berbahayanya eskalasi ini secara langsung terhadap warga sipil.
Pemadaman Internet dan Kontrol Informasi
Sebagai respons atas protes yang luas, pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet nasional yang parah, memutus komunikasi digital publik di hampir seluruh negeri. Internet blackout telah berlangsung lebih dari beberapa hari, menyulitkan jurnalis independen dan aktivis HAM untuk melaporkan kejadian dari lapangan.
Akibatnya, banyak warga mencoba mengakses informasi melalui jaringan satelit alternatif, tetapi langkah keras aparat—termasuk ancaman hukuman berat bagi pengguna—membuat komunikasi semakin sulit.
Respons Pemerintah Iran
Pihak berwenang Iran mengklaim telah “mengendalikan” situasi protes, meski pembatasan internet dan penindasan masih berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan situasi kini terkendali dan sejumlah pembatasan akan tetap diterapkan selama ancaman unjuk rasa masih ada.
Pemerintah bahkan mengumumkan tiga hari berkabung nasional untuk para “martir” atau korban tewas dalam protes, sambil meluncurkan kampanye dukungan terhadap rezim dan menuduh Amerika Serikat serta Israel sebagai pihak yang memicu kerusuhan.
Ribuan pendukung pemerintah juga diorganisir dalam kampanye pro-rezim yang digelar di Teheran, dengan propaganda kuat terhadap ancaman asing, yang dianggap rezim sebagai alasan legitimasi untuk menekan oposisi.
Peran Ekonomi dan Tokoh Eksternal
Protes yang awalnya dipicu oleh masalah ekonomi kini juga melibatkan kritik politik lebih jauh terhadap struktur kekuasaan Iran, termasuk otoritas tertinggi negara yaitu Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei. Para demonstran di beberapa wilayah bahkan meneriakkan slogan menentang kepemimpinan tertinggi tersebut, memperlihatkan dimensi yang lebih dalam dari gerakan ini.
Tokoh oposisi yang berada di luar negeri, seperti Reza Pahlavi, putra mahkota Iran sebelum revolusi 1979, juga mengeluarkan seruan untuk aksi nasional dan mogok kerja, meskipun pengaruhnya di dalam negeri sulit diukur di bawah kondisi blackout.
Perhatian dan Ancaman Internasional
Situasi di Iran tidak hanya menarik perhatian media global, tetapi juga memicu kecaman internasional dan kekhawatiran tentang stabilitas regional. Pemerintah luar negeri, termasuk Amerika Serikat, telah menyatakan keprihatinan tentang penggunaan kekuatan terhadap pengunjuk rasa dan mempertimbangkan opsi internasional untuk membantu perlindungan warga sipil.
Ketegangan geopolitik makin meningkat, dengan retorika keras antara pejabat Iran dan pemerintah AS mengenai risiko intervensi asing.
Kesimpulan
Iran saat ini berada dalam momentum krisis terbesar sejak beberapa tahun terakhir. Aksi protes besar yang bermula dari frustrasi ekonomi kini telah berubah menjadi tantangan serius terhadap struktur kekuasaan politik negara. Dengan ratusan korban tewas, puluhan ribu penangkapan, pemadaman internet nasional, dan reaksi keras pemerintah serta dukungan internasional yang kuat, situasi di Iran akan terus menjadi isu global yang penting untuk diikuti. Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah Iran akan mengalami perubahan besar dalam sistem politiknya atau menghadapi fase penindasan yang lebih panjang.
