
KabarKabari,- Upaya pencarian pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di kawasan pegunungan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Insiden ini menyita perhatian publik setelah pesawat tersebut dinyatakan hilang kontak saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Pesawat tersebut diketahui melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1/2026) siang. Hingga Minggu (18/1/2026), sejumlah fakta baru mulai terungkap seiring intensifnya proses pencarian di medan yang tergolong ekstrem.
Berikut rangkuman lima fakta terkini terkait dugaan jatuhnya pesawat ATR 42-500 di wilayah Maros dan sekitarnya.
1. Hilang Kontak Saat Fase Pendekatan ke Makassar
Pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak dengan petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Control/ATC) saat memasuki fase pendekatan (approach) menuju Bandara Sultan Hasanuddin.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pesawat tersebut tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. ATC sempat memberikan arahan ulang kepada awak pesawat agar melakukan koreksi posisi dan kembali ke jalur pendaratan yang aman.
Namun, setelah komunikasi terakhir tersebut, pesawat tidak lagi merespons panggilan ATC. Kondisi ini kemudian memicu status darurat dan dilanjutkan dengan operasi pencarian dan pertolongan (SAR).
2. Pesawat ATR 42-500 Buatan Tahun 2000
Pesawat yang dilaporkan hilang merupakan jenis ATR 42-500 dengan nomor seri 611. Pesawat ini diketahui diproduksi pada tahun 2000 dan telah digunakan selama lebih dari dua dekade dalam melayani penerbangan domestik.
ATR 42-500 merupakan pesawat turboprop jarak pendek hingga menengah yang lazim digunakan untuk rute antarkota di Indonesia, khususnya wilayah kepulauan dan daerah dengan bandara berlandasan terbatas.
Meski tergolong pesawat berusia tua, ATR 42-500 dikenal memiliki rekam jejak keselamatan yang baik apabila dirawat sesuai standar dan dioperasikan dalam kondisi cuaca yang mendukung.
3. Lokasi Dugaan Jatuh di Kawasan Pegunungan Maros
Hasil analisis awal mengarah pada kawasan pegunungan di Kabupaten Maros dan sekitarnya sebagai lokasi dugaan jatuhnya pesawat. Fokus pencarian saat ini berada di wilayah Gunung Bulusaraung, kawasan yang memiliki kontur terjal dan vegetasi lebat.
Medan pencarian dinilai sangat menantang karena berada di kawasan pegunungan dengan akses terbatas. Tim SAR harus berjalan kaki berjam-jam, melewati hutan dan jalur pendakian sempit untuk mencapai titik-titik yang dicurigai sebagai lokasi serpihan pesawat.
Kondisi cuaca yang berubah-ubah juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian, sehingga operasi dilakukan dengan ekstra kehati-hatian.
4. Serpihan Pesawat dan Buku Pilot Ditemukan
Fakta paling signifikan dalam pencarian adalah ditemukannya sejumlah serpihan yang diduga kuat berasal dari pesawat ATR 42-500. Serpihan tersebut pertama kali ditemukan oleh pendaki di lereng Gunung Bulusaraung dan kemudian dilaporkan kepada aparat setempat.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangkep, Muhammad Arsyad, mengungkapkan bahwa total terdapat enam serpihan yang telah ditemukan oleh tim SAR gabungan.
“Ada enam serpihan, kalau tidak salah,” ujar Arsyad.
Serpihan tersebut telah dievakuasi ke Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Menurut Arsyad, beberapa bagian serpihan menyerupai struktur luar pesawat.
“Paling dinding luarnya,” jelasnya.
Yang semakin menguatkan dugaan adalah ditemukannya buku pilot di sekitar lokasi serpihan. Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi tim investigasi untuk memastikan bahwa serpihan tersebut benar berasal dari pesawat yang dilaporkan hilang.
5. Operasi SAR Terus Diperluas
Dengan ditemukannya serpihan pesawat dan barang yang diduga milik awak, tim SAR gabungan memperluas area pencarian. Operasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, hingga masyarakat setempat yang memahami medan pegunungan.
Fokus utama saat ini adalah memastikan lokasi utama jatuhnya pesawat serta mencari kemungkinan korban. Proses pencarian dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel di lapangan.
Pihak berwenang juga terus mengumpulkan data dan informasi pendukung, termasuk rekaman komunikasi terakhir pesawat dengan ATC, kondisi cuaca saat kejadian, serta catatan teknis pesawat.
Menanti Kepastian Resmi
Hingga saat ini, otoritas terkait belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab pasti insiden tersebut. Seluruh pihak diminta menunggu hasil investigasi lebih lanjut yang akan dilakukan oleh otoritas penerbangan setelah lokasi utama pesawat ditemukan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya keselamatan penerbangan, terutama di wilayah dengan karakter geografis yang menantang seperti Indonesia.
Operasi pencarian dipastikan akan terus dilanjutkan hingga seluruh fakta terungkap dan kepastian mengenai nasib pesawat serta awaknya diperoleh.
